Beranda > Uncategorized > KETERAMPILAN MIKRO KONSELING

KETERAMPILAN MIKRO KONSELING

Menurut Willis dalam bukunya yang berjudul Konseling Individual teori & Praktek (2010), Teknik konseling dalam mikro konseling yang dianggap penting adalah antara lain :
1. Perilaku Attending (Menghampiri Klien)
Perilaku attending dapat juga dikatakan sebagai penampilan konselor yang menampakkan komponen-komponen perilaku nonverbal, bahasa lisan, dan kontak mata. Memiliki perilaku attending (penampilan) bertujuan agar calon konselor dapat memperlihatkan penampilan yang attending di berbagai situasi hubungan interpersonal secara umum, khususnya dalam relasi konseling dengan klien.

2. Empati
Orang yang dipercayai oleh klien adalah yang memahami dan dapat merasakan perasaan, pengalaman, serta pikiran klien. Konselor yang empati mudah memasuki dunia dalam klien sehingga klien tersentuh dengan sikap konselor. Akhirnya klien akan terbuka dengan jujur terhadap konselor.
Seorang calon konselor harus dilatih agar peka terhadap perasaan klien, memahami pikirannya, dan mampu merasakan perasaan dan pengalaman klien. Untuk mencapai hal tersebut maka dilatihkan teknik empati. Latihan tersebut mencakup ungkapan perasaan konselor mengenai perasaan, pengalaman, pikiran (keadaan dunia dalam klien) baik dengan cara biasa maupun dengan cara yang lebih mendalam/menyentuh.

3. Refleksi
Refleksi adalah suatu jenis teknik konseling yang penting hubungan konseling. Yaitu sebagai upaya untuk menangkap ¬pikiran dan pengalaman klien kemudian merefleksikan kepada klien kembali. Hal ini harus dilakukan konselor sebab sering klien tidak menyadari akan perasaan, pikiran, dan pengalamannya yang mungkin menguntungkan atau rnerugikannya.
Jika dia menyadari akan perasaannya, maka klien mungkin segera mengubah perilakunya kearah positif. Namun tidaklah mudah calon konselor untuk menangkap dan memahami perasaan dan pikiran serta pengalaman, lalu mengungkapkannya kembali kepada klien dengan bahasa calon konselor sendiri. Karena itulah seorang calon konselor haruslah dilatih secara terus menenerus dan bertahap keterampilan refleksi ini.

4. Eksplorasi
Sering klien sulit untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalamannya kepada konselor karena merasa malu, takut, segan, curiga, tertutup, dan berbagai ganjalan lain. Perlu diingat bakwa faktor budaya sebagai bangsa bekas terjajah banyak anggota masyarakat yang kurang berani bicara terbuka untuk mengeluarkan isi hati dan perasaanya terhadap orang lain termasuk keluarga sendiri.
Disamping itu kepempimpinan yang otoriter di masyarakat, keluarga dan sekolah membuat seorang merasa takut dan malu menyatakan pendapat ataugagasan sendiri, apalagi terhadap penguasa.
Hubungan konseling seharusnya dapat mengatasi semua kendala di atas. Yaitu berupaya untuk membuat kliennya terbuka, merasa aman dan berpartisipasi didalam dialog. Salah satu upaya konseling menggunakan teknik eksplorasi yaitu upaya untuk membuat klien mengatakan semua perasaan, pikiran, dan pengalaman kepada konselor secara jujur.

5. Menangkap Pesan Utama (Paraphrasing)
Sering terjadi klien sulit mengarahkan pembicaraan dan menekankan tentang pokok-pokok permasalahannya. Hal ini karena dia terlampau emosional atau memang kurang pengetahuan bagaimana memecahkan persoalan sendiri.
Untuk mengatasi hal ini perlu ada upaya koaselor agar inti pembicaraan klien bisa ditangkap dan dibahasakan dengan sederhana serta mudah dimengerti oleh klien. Karena itu calon konselor perlu dilatih untuk menangkap pesan utama klien atau disebut juga teknik paraphrasing.

6. Bertanya Membuka Pertanyaan
Jika seorang klien tak mampu menyatakan isi hati dan perasaannya maka konselor saatnya menggunakan pertanyaan terbuka agar percakapan bisa dilakukan oleh klien. Namun tidak mudah membuat pertanyaan terbuka, karena harus memulai dengan kata – kata yang membuka, bukan menutup seperti mengapa, apa sebab, kenapa, dan sebagainya. Kata awal yang mungkin membuka.

7. Dorongan Minimal
KIien sering tersendat dalam mengungkapkan emosinya. Hal ini disebabkan rasa tertekan yang kuat. Untuk memudahkan emosi itu keluar, maka teknik memberi dorongan minimal dapat dipergunakan oleh konselor.

8. Interpretasi
Untuk menentukan alternatif pilihan dalam mengambil keputusan, seorang klieen sering kebingungan karena kurangnya rujukan atau referensi. Karena itu konselor yang profesional harus menjadi rujukan klien.
Salah satu upaya untuk memudahkan klien merujuk kepada teori atau pemahaman yang ilmiah ada!ah dengan menggunakan teknik interpretasi. Yaitu konselor mengulas atau menafsirkan pemikiran, perasaan dan pengalaman klien secara objektif, ilmiah dan atas dasar teori-teori.

9. Mengarahkan
Adalah suatu keterampilan konseling yang mengatakan kepada klien agar dia berbuat sesuatu. Sering klien kurang mampu melakukan sesuatu tanpa petunjuk orang lain. Hal ini karena faktor emosional, kurang konsentrasi, atau terlalu banyak ngawur sehingga menyimpang dari pokok pembicaraan. Mengarahkan (directing) merupakan teknik konseling yang akan membuat klien terarah kepada tujuan konseling.

10. Menyimpulkan Sementara
Dalam suatu diskusi dengan klien sering banyak butir yang muncul. Sehingga kadang-kadang menyulitkan klien untuk menarik makna dari sana. Karena itu konselor harus mampu membuat kesimpulan sementara bersama klien agar mempertajam masalah, meningkatkan kualitas diskusi, maju ke taraf selanjutnya kearah tujuan, menyimpulkan hal-hal yang dibicarakan, dan klien memperoleh kilas balik dari hasil pembicaraan sehingga dia tahu bahwa konseling makin maju.

11. Konfrontasi
Kadang-kadang klien tidak konsisten dalam kata dan perrbuatannya, atau dengan bahasa umum tidak konsisten antara aspek verbal dengan nonverbal. Atau terjadi perbedaan antara ucapan pertama dengan berikutnya dalam hal yang sama.
Untuk mengatasi hal ini, konselor harus menguasai teknik konfrontasi agar klien dibantu supaya kembali konsisten.

12. Fokus
Klien yang sudah terlibat dan terbuka dalam proses konseling sering bicaranya menyimpang dari pokok pembicaraan. Hal ini disebabkan oleh keadaan emosional, kurang konsentrasi, atau terlalu bersemangat
Dalam keadaan demikian, seorang konselor harus membantu kliennya agar memusatkan perhatiannya pada pokok pembicaraan. Upaya konselor ini dapat terlaksana jika menggunakan teknik memfokuskan pembicaraan.

13. Memimpin (Leading)
Suatu proses konseling harus dapat mencapai tujuan secara efektif. Namun sering terjadi klien tak mampu mengarahkan pembicaraan dan terkesan melantur, menyimpang, atau kebanyakan materi diluar pokok pembicaraan.
Untuk mengatasi hal ini, seorang konselor harus mampu mernimpin agar pembicaraan klien lurus ke tujuan konseling sebagaimana diharapkan klien. Konselor yang efektif akan menggunakan teknik memimpin (leading).

14. Menjernihkan (Clarifying)
Dalam keadaan ragu-ragu, scring klien berbicara samar-samar alias tidak jelas. Mungkin dia diliputi perasaan tertentu, mungkin memelihara rahasia, maka klien kurang jelas pengungkapannya.
Mungkin pula ketakjelasan bersumber dari lemahnya kemampuan mengkomunikasikan sesuatu secara jelas. Dalam hal-hal seperti ini konselor harus jeli pengamatannya. Dia berusaha menggunakan teknik menjernihkan atau clarifying.

15. Memberi Nasehat
Mungkin banyak klien dan calon klien mengira _biimbingan dan konseling adalah lembaga nasehat. Sehingga jika tidak ada kebutuhan seperti itu, maka lembaga itu seolah-olah tak ada gunanya.
Padahal konseling bukan hanya untuk memberi nasehat saja namun lebih luas lagi yakni untuk pengembangan klien dan membantu dia agar mampu mengatasi masalah sendiri. Karena itu sebaiknya nasehat diberikan jika klien memintanya.

16. Memberi Informasi
Memberi informasi kepada klien sama dengan memberi nasehat yaitu jika diminta oleh klien. Namun tidak semua permintaan informasi harus dilayani, akan tetapi harus mempertimbangkan kondisi klien, dan penting-tidaknya informasi yang diminta.

17. Merencanakan Program bersama Klien
Mendekati akhir sesi konseling selalu harus klien untuk kegiatan selanjutnya dalam rangka pengembangan dirinya. Mungkin rencana itu tidak besar namun harus ada.

18. Menyimpulkan, Mengevaluasi, dan Menutup Sesi Konseling
Jika konselor akan menutup sesi konseling sebaiknya dibuat bersama klien kesimpulan umum hasil proses konseling sejak awal. Disamping itu klien diberi kesempatan memberikan penilaian terhadap jalannya konseling dan terhadap perilaku konselor selama membantu klien. Hal ini amat berguna sebagai masukan bagi konselor untuk memperbaiki proses konseling dan pribadinya sendiri.
Kesimpulan adalah berdasarkan perolehan selama proses konseling. Terutama apa yang sudah diperoleh klien yaitu: apakah kecemasannya telah menurun, apakah dia merasa lebih lega, apakah rencananya sudah jelas, apakah pertemuan berikutnya. perlu, dan sebagainya.
Sedangkan evaluasi adalah mengenai jalannya diskusi, kemampuan konselor, keadaan diri klien sekarang, dan bagaimana rencananya kira-kira akan berhasil atau tidak?
Jika semua sudah jelas, maka konselor menyarankan kepada klien apakah sesi konseling sudah bisa ditutup.

Sumber:

Willis, Sofyan S. 2010. Konseling Individual (Teori & Praktek). Bandung: Alfabeta

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: