Beranda > Uncategorized > EVALUASI DIAGNOSTIK DAN REMEDI

EVALUASI DIAGNOSTIK DAN REMEDI

A.     EVALUASI DIAGNOSTIK

Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menetukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan.

Evaluasi diagnostik merupakan salah satu fungsi evaluasi yang memerlukan prosedur dan kompetensi yang lebih tinggi dari peran guru sebagai evaluator. Evaluasi diagnostik merupakan evaluasi yang mempunyai penekanan khusus pada penyembuhan kesulitan belajar siswa yang tidak terpecahkan oleh formula perbaikan yang biasanya di tawarkan dalam bentuk evaluasi formatif. Evaluasi diagnostik juga dapat diartikan sebagai evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.

Konsep diagnostik sebenarnya bukan hanya di kenal dalam bidang pendidikan konsep dan fungsi diagnostik pada prinsipnya dikenal dikalangan para medis, atau bidang kedokteran, yang kegiatan prosedurnya hampir sama yaitu mencari dan menentukan penyebab problem pasien. Evaluasi diagnostik  juga memiliki kaitan erat dengan fungsi evaluasi formatif, yaitu apabila konsep medis di pakai dalam usaha menguraikan konsep dasar evaluasi diagnostik maka fungsi evaluasi formatif dapat dimisalkan sebagai bantuan pertama kecelakaan yang menyediakan perbaikan perilaku, dan evaluasi diagnostik adalah fungsi evaluasi yang berusaha mencari penyebab kesulitan pasien, dalam hal ini siswa, yang tidak merespon pada perlakuan yang diberikan guru pada evaluasi formatif.

Diagnostik biasanya dilakukan pada awal pengajaran, awal tahun ajaran atau semester. Tujuan evaluasi diagnostik salah satunya adalah guna menentukan tingkat pengetahuan awal siswa. Dengan mengetahui pengetahuan awal tersebut, guru dapat menempatkan tujuan pengajaran realitis dan tetap menentang untuk dicapai.

B.     ONTOLOGI KEGIATAN REMEDI

Menurut Good (1973) di defenisikan sebagai berikut: remedial merupakan pengelompokan siswa, khusus yang dipilih yang memerlukan pengajaran lebih pada mata pelajaran tertentu daripada siswa dalam kelas biasa. Tindakan kelas remedi yang berupa pengajaran kembali dengan materi pembelajaran yang mungkin diulang atau pemberian suplemen pada soal dan latihan secara umum adalah termasuk dalam cakupan metode mengajar guru. Kegiatan evaluasi yang harus sesuai dengan hasil diagnostik adalah masih dalam cakupan evaluasi pembelajaran.

Remedi adalah termasuk kegiatan pengajaran yang tepat di terapkan hanya pada kesulitan dasar para siswa telah di ketahui. Kegiatan remedi merupakan tindakan korektif yang diberikan kepada siswa setelah evaluasi diagnostik  dilakukan.

Diagnostik pendidikan pada umumnya difokuskan pada tiga pertanyaan pokok, yaitu siapkan siswa yang memiliki kesulitan belajar dalam kelas. Dari cakupan materi yang telah diberikan, pada unit materi pembelajaran manakah yang dirasakan kuat dan materi pembelajaran manakah yang di rasakan lemah? Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kegagalan pencapaian belajar?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, ada beberapa cara untuk mengetahui siswa yang memiliki kesulitan belajar. Satu cara yang masih dirasakan efektif adalah menggunakan pendekatan survei untuk menjaring informasi tentang siswa yang mengalami kesulitan dan memerlukan remedi. Tes survey ini termasuk tes dalam progam remedi yang direncanakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.ketika siswa mengalami kesulitan belajar dapat diidentifikasi, mereka kemudian di kelompokan dalam kelompok-kelompok kecil. Langkah berikutnya yang juga penting ialah siswa diwajibkan mengikuti progam remedi dengan pemberian materi belajar tertentu.

Untuk meyakinkan bahwa skor pencapaian lebih bermakna, guru dapat mencari informasi tambahan yang berasal dari buku raport siswa. Ada beberapa kemungkinan, ketika nilai satu siswa  dibangdingkan dengan nilai siswa lainnya. Mereka dapat dikelompokan dalam tiga kelompok:

a. Kelompok siswa yang under achiever.

b. Kelompok siswa yang di kategorikan mencapai nilai cukup.

c. Kelompok siswa diatas rata-rata.

Setelah para siswa yang termasuk under achiever dikelompokkan. Pertanyaan kedua dapat di tindak lanjuti, yaitu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan belajar mereka. Tujuan evaluasi diagnostik dan remedi adalah membantu para siswa agar dengan  kemampuannya dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar. Untuk mencapai tujuan itu, guru harus perlu  mempunyai kompetensi penting,yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan para siswa. Kemudian membantu mereka memperbaiki kelemahan dengan tetap membangun melalui kekuatannya

Salah satu prinsip dalam pengajaran remidi yang perlu di ketahui oleh para guru adalah bahwa siswa perlu memiliki pengalaman berhasil dalam proses pembelajaran.kemudian siswa di motivasi untuk bisa berhasil dalam unit lainya, dengan menggunakan metode yang lebih tepat, misalnya problem solving, atau dengan model belajar dari materi disekitar siswa.

Untuk menentukan kelemahan dan kelebihan siswa, seorang guru perlu memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan ketrampilan diagnostik. Menurut Lippit dan Lippit, (1978), ada beberapa langkah pengembangan yang perlu diperhatikan;

  1. Guru perlu memehami prinsip-prinsip belajar dan penerapannya.
  2. Guru memerlukan penguasaan pengetahuan tentang pemahaman gejala perilaku yang mengidikasikan adanya kesulitan.
  3. Guru harus dapat menerapkan tehnik-tehnik diagnistik dan tindakan remidi yang sesuai dengan keadaan di kelas.

Familiar dengan psikologi belajar, dan penguasaan terhadap materi pembelajaran merupakan syarat awal untuk berhasil dalam melakukan diagnostik.

Siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah pertanyaan yang menyangkut faktor penyebab apakah yang sering menjadikan kegagalan dalam belajar?  Pertanyaan ini perlu di perhatikan oleh para guru atau evaluator. Beberapa faktor penyebabnya, yaitu faktor internal pribadi siswa, lingkungan pribadi, dan mungkin gabungan dari keduanya juga faktor eksternal yang berkaitan erat dengan siswa.

1. Faktor Penyebab Internal

a. Kesehatan

Kondisi fisik siswa secara umum dapat mempengaruhi kemampuan mencapai sesuatu tujuan. Pencapaian hasil belajar, pada dasarnya merupakan usaha yang hanya dapat dicapai melalui kerja keras, tekun, dan dilakukan dengan komitmen tinggi. Kurang energi yang di sebabkan kondisi fisik yang kurang sehat, dapat menutup kemungkinan siswa memiliki kemampuan siswa yang di sebutkan di atas. Selain itu, siswa yang kurang sehat juga tidak bias mencapai potensi yang sebenarnya.

Kesehatan yang buruk dapat berpengaruh pada tingginya ketidak hadiran siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Ketidak hadiran dalam mengikuti pembelajaran, dapat menyebabkan rendahnya pencapaian pembelajaran.

Problem pada indra penglihatan dapat menjadi penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam pendidikan siswa yang memiliki penyakit rabun dekat pada umumnya tidak dapat melihat papan tulis dan alat bantu belajar lainya yang digunakan oleh guru.padahal alat bantu belajar tersebut penting untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Akibat dari hal ini adalah terjadinya kesalah pahaman siswa dalam menerima materi dan akhirnya penguasaan materi pembelajaran menjadi terhambat.

Problem pada indra pendengaran menyebabkan kesulitan pada siswa dalam berkomunukasi dengan sesame siswa maupun dengan guru. Diantaranya serung kali berbicara tanpa ekspresiyang benar, kesulitan mengeja, kesulitan berbicara, dan kesulitan berbicara dalam mengomunikasikan ide dengan cara yang benar.

b. Problem penyesuaian diri

Faktor lain yang juga termasuk faktor internal siswa yaitu problem penyesuaian diri. Walaupun permasalahan ini erat kaitannya dengan faktor eksternal misalnya siswa lain, atau masyarakat sekitar, namun sumber utama adalah berasal dari dalam diri siswa. Sebagai contoh, siswa yang memiliki gangguan emosi, pada awalnya menghambur-hamburkan energi mereka sebelum akhirnya dapat menggunakannya untuk kegiatan belajar. Bhieler (1971) menunjukkan bahwa siswa yang memiliki permasalahan belajar biasanya ditandai dengan beberapa indikator. a)  kesiapan belajar yang buruk. b) kesulitan menghadapi tes. c) kemampuan bahasa yang buruk. d) lebih senang mengikuti belajar fisik dan praktis daripada belajar skolastik atau mental learning. e) penguasaan materi belajar yang lambat. f) kurang perhatian dalam mengikuti kegiatan sekolah.

Perilaku siswa yang mengalami gangguan emosional, di tandai dengan hal-hal berikut:

  1. Siswa menolak untuk belajar.
  2. Siswa menjadi nakal, agresif.
  3. Siswa berpretensi negatif terhadap kegiatan belajar.
  4. Siswa memindahkan kekerasan dalam rumah ke sekolah.
  5. Menolah perintah untuk belajar.

2. Faktor penyebab eksternal

Faktor eksternal siswa diantaranya lingkungan disekitar siswa, seperti pergaulan siswa diluar sekolah, kondisiorng tua siswa, dan juga kegiatan siswa diluar sekolah.

a. Lingkungan

Faktor lingkungan pada umumnya muncul diluar situasi siswa. Faktor ini juga merupakan kesulitan dasar yang tidak mudah untuk diidentifikasi. Misalnya kondisi orang tua yang tidak hamonis.

b. Cara guru mengajar yang tidak baik

Guru kelas dapat di kategorikan faktor eksternal karena guru yang tidak baik dalam mengajar dapat menimbulkan kesulitan belajar pada siswa.

c. Orang tua siswa

Sumber eksternal lain adalah orang tua yang tidak atau mampu menyediakan buku atau fasilitas belajar yang memadai baig anak-anaknya atau mereka yang tidak mau mengawasi anak-anaknya agar belajar di rumah.

d. Masyarakat sekitar

Masyarakat di sekitar siswa dapat menjadi sumber masalah, ketika keberadaan masyarakat tidak kondusif terhadap kebutuhan siswa secara individual maupun kelompok.

B. REMEDI SECARA INDIVIDUAL

Tidak ada teknik diagnostik dan remedial yang berhasil, jika dilakukan tanpa sepengetahuan siswa yang bersangkutan, dalam hubungan antara teknik diagnostik dan remedial dengan kebutuhan mereka. Beberapa siswa yang mengalami kegagalan belajar, pada kasus tertentu mempunyai perasaan tidak pandai. Mereka merasa rendah diri atau inferior bahwa mereka tidak berhasil. Tujuannya bimbingan konseling dalam kaitannya dengan kesulitan belajar adalah menguatkan dan meningkatkan motivasi mereka untuk bangkit guna mengatasi permasalahan.

Yang perlu di perhatikan oleh seorang guru adalah bahwa tidak semua remidi harus dilakukan secara individual, tetapi bisa juga remidi dilakukan secara berkelompok dengan membuat kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 6 siswa yang memiliki problem sama.

Dalam hal ini yang penting adalah para guru harus peduli dan menyiapkan setiap satuan pembelajaran dengan latihan soal dan buku kerja yang relevan dengan subtansi pengajaran.

C. ORGANISASI KEGIATAN REMEDIAL

Progam remidi yang baik pada prinsipnya perlu didasarkan pada diagnostik awal dan disertai dengan tindak lanjut yang kontinu. Pertama, perlu diadakan pencerahan kepada siswa bahwa tujuan khusus progam remedi diantaranya adalah mengatasi kesulitan belajar. Kedua, guru perlu menilai keberhasilan progam remidi yang telah di lakukan. Ketiga evaluasi remidi memiliki arti penting bagi orang-orang terdekat siswa. Para kegiatan remidi ini, para guru juga perlu memerhatikan satu prinsip penting, yaitu bahwa semakin kurang kematangan siswa, semakin penting hasil remidi diterangkan dengan cara memberikan gambaran nyata, baik dengan grafik maupun dengan diagram lainnya yang relevan.

Untuk guru sekolah dasar, biasanya masih bisa di beri tanggung jawab tambahan, berupa melaksanaan progam diagnostik dan remedi, sedangkan untuk sekolah lanjutan, guru bimbingan konseling yang ada dapat diberdayakan secara intensif.

D. MEMBERIKAN PENGAJARAN REMEDI

Guru merupakan ujung tombak dalam mengubah sikap siswa dari menarik diri atau antipati belajar menjadi penggairah dalam mencapai tujuan belajar. Para siswa yang mengalami permasalahan belajar harus diberi pemahaman dalam bentuk progam-program yang direncanakan dalam bentuk remidi.

Tingkat awal remedi adalah membangun kembali keyakinan dalam diri siswa. Remedi yang baik pada umumnya  mempunyai semua atribut mengajar yang baik, di tambah dengan contoh soal yang bisa digunakan untuk lebih memahami dan menguasai materi pembelajaran.

Hal itu semua akan membantu siswa manakala perkembangan positif dan nyata diberitahukan dan keberhasilan yang dapat dicapai dihargai. Alat bantu berupa grafik,bagan, dan gambar dapat digunakan untuk memotivasi para siswa dalam menguatkan motivasi mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharismi.2006.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi).Jakarta:Bumi Aksara

Arikunto, Suharismi.2009.Evaluasi Program Pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara

Sukardi.2009.Evaluasi pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: