Beranda > Uncategorized > INTEGRITAS DAN KESTABILAN KEPRIBADIAN

INTEGRITAS DAN KESTABILAN KEPRIBADIAN

Menampilkan Kepribadian Dan Perilaku Terpuji

Pribadi manusia di pengaruhi oleh faktor biologis konstitusional (jasmaniah), faktor kebudayaan dan aktualisasi – diri seperti kemampuan menentukan dirinya sendiri bukan secara mekanistik (man is not entirely mechanistically determined). Dorongan untuk aktualisasi diri merupakan salah satu dari dorongan (motif) manusia yang paling kuat yang berkaitan dengan perasaan tidak puas terhadap dirinya sendiri dan berkaitan juga dengan usahanya untuk memperbaiki atau menyempurnakan dirinya. Atas dasar kesadarannya dalam memilih berbagai alternative yang dipilihnya dan kemudian mengambil keputusan oleh dirinya sendiri merupakan bukti bahwa seseorang memiliki kebebasan untuk lepas dari determinasi yang mekanistik itu. Dasar yang kokoh bagi kepribadian manusia adalah terletak pada tindakan tindakan yang di lakukan oleh diri pribadinya sendiri.

Perilaku terpuji yaitu perilaku yang sesuai dengan norma-norma agama, tidak menyimpang dari aturan. Dalam menghadapi konseli kita harus bersikap seperti berwibawa, sikap berwibawa akan mempunyai nilai tersendiri di mata konseli, dan menambah keyakinan konseli terhadap konselor. Sikap sabar, bersabar menghadapi konseli yang macam – macam karakteristiknya, karena setiap individu berbeda. Dengan sikap sabar konselor seorang konseli akan merasa nyaman. Misalnya mendengarkan dengan sungguh – sungguh saat konseli memberitahukan masalahnya, dan dengan penuh kasih sayang memberikan solusinya. Sikap ramah, seorang konselor harus bisa memperlakukan konseli dengan baik, salah satunya dengan sikap yang ramah, sehingga konseli akan merasa di perhatikan dan merasa di hormati. Konsisten, artinya tetap pada suatu patokan, tidak berubah ubah. Apabila menghadapi konseli di harapkan seorang konselor mampu memberikan pengarahan yang optimal serta tidak mengubah ubah suatu arahan.

Menampilkan Emosi Yang Stabil

Emosi adalah perasaan yang terpengaruh karena menimbulkan adanya rangsang yang di tangkap oleh indra.

Macam – macam emosi :

  1. Emosi marah
  2. Emosi sedih, duka, pilu
  3. Emosi iri
  4. Emosi takut
  5. Emosi cinta

Perbedaan rangsang yang diterima oleh indra menimbulkan emosi yang berbeda. Menampilkan emosi secara stabil yang ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengontrol emosinya secara baik dan setiap tindakan harus di dasarkan pada akal sehat, berpikirlah tentang akibat yang akan terjadi, berusahalah untuk memaafkan orang lain.

Ada pula individu yang kurang atau bahkan sama sekali tidak memiliki stabilitas emosi, biasanya cenderung menunjukkan perubahan emosi yang cepat dan tidak dapat diduga-duga. Tingkat kematangan emosi (emotional maturity) seseorang dapat ditunjukkan melalui reaksi dan kontrol emosinya yang baik dan pantas, sesuai dengan usianya.

Semua orang pernah mengalami emosi berupa takut, sedih, cinta, iri, marah. Jika anda pernah mengalami emosi – emosi seperti itu maka harus dapat mengendalikan dan mengarahkan secara positif. Apabila anda tidak dapat mengendalikan emosi dan tidak dapat mengarahkannya secara positif, anda dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Ada beberapa cara yang dapat di lakukan untuk mengendalikan dan mengarahkan emosinya secara positif :

  1. Setiap tindakan harus di dasarkan pada akal sehat.
  2. Berpikirlah tentang akibat yang akan terjadi.
  3. Berusahalah untuk memaafkan orang lain.

Peka, Bersikap Empati Serta Menghormati Keragaman Dan Perubahan

Dalam menghadapi klien kita harus peka terhadap konseli, kita harus tahu karakteristik seorang konseli, peka terhadap masalah konseli dan mudah menangkap apa yang terjadi, dan di inginkan seorang konseli. Peka : bisa di artikan cepat tanggap

Empati adalah kemampuan sesorang untuk merasakan secara tepat apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain dan mengkomunikasikan persepsinya. Orang yang memiliki tingkat empati tinggi akan menampakkan sifat bantuannya yang nyata dan berarti dalam hubungannya dengan orang lain, sementara mereka yang rendah tingkat empatinya menunjukkan sifat yang secara nyata dan berarti merusak hubungan antarpribadi.

Empati bisa di artikan : turut merasakan apa yang di alami oleh klien dan klien tahu kalau konselor memahami. Bersikap empati kunci memulai hal yang positif, dalam melayani konseli anda harus menciptakan hubungan yang positif, hangat, dan penuh kasih antara konselor kepada konseli. Empati bisa diartikan “ mampu sepenuhnya memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain sehingga hampir-hampir meniadakan identitas diri untuk menyatu dengan orang tersebut”. Empati adalah sepenuhnya memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Sebagian orang menampilkan hubungan empatik secara metaforis, yakni seperti berjalan dengan memakai sepatu yang lain. kita bisa membayangkan apa yang akan kita lihat dan bagaimana kita merasakan jika menjadi dia dan memakai sudut pandangnya jika dapat melakukannya, kita akan mampu membayangkan dan memahami dunia dan sampai batas tertentu.

Jika hubungan bersifat hangat, kasih ,dan empatik konseli kan merasa di hargai dan aman untuk berbagi masalah yang sangat pribadi. Hubungan semacam ini memungkinkan untuk lebih mampu memahami sudut pandang orang tersebut dan secara tepat mengidentifikasi perasaan–perasaannya. Setelah kita berhubungan secara erat dan merasakan seolah–olah jadi dirinya, pasti dia akan bersikap serupa kepada kita.

Sikap hormat berarti menghargai orang lain sebagai manusia yang mampu menemukan solusi–solusi atas persoalannya sendiri dan memandang positif kepadanya dengan asumsi bahwa terlepas dari apa yang di lakukannya, dia telah berbuat yang terbaik sesuai dengan kemampuannya.

Sikap hormat adalah menghargai orang sebagaimana adanya dan sebagai orang yang layak di hargai. Kata – kata “menghargai orang” mungkin sangat mudah di ucapkannya, tetapi mempratikkannya sulit.

Menampilkan Toleransi Tinggi Terhadap Konseli Yang Menghadapi Stres Dan Frustasi

Stres adalah suatu kondisi tegangan (tension) baik secara faal maupun psikologis yang diakibatkan oleh tuntutan dari lingkungan yang dipersepsi sebagai ancaman.  Stres merupakan bagian dari kondisi manusiawi, dalam batas tertentu, stres membantu kita agar tetap termotivasi (eustres). Tetapi kadang-kadang kita terlalu banyak mendapatkan stres sehingga menurunkan kualitas kinerja kita (distres).

Leonard Berkowitz (1995), mengatakan bahwa frustasi adalah reaksi emosional internal seseorang ketika keadaan lingkungan dirasakan menghalangi atau menghambat pencapaian tujuannya.

Richard Bugelski dan Anthony M. Graziano (1980), menyatakan bahwa frustasi merupakan perasaan seperti marah atau kesal akibat tidak mampu melakukan sesuatu karena kondisi luar tidak seperti yang diinginkan. Frustasi juga bisa muncul bila sesorang dicegah untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan.

Toleransi berasal dari kata “ Tolerare ” yang berasal dari bahasa latin yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau perilaku manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan.

Toleransi adalah perilaku terbuka dan menghargai segala perbedaan yang ada dengan sesama. Bertoleransi terhadap perbedaan kebudayaan dan agama. Namun, konsep toleransi ini juga bisa diaplikasikan untuk perbedaan jenis kelamin, anakanak dengan gangguan fisik maupun intelektual  seperti gangguan kejiwaan dan juga jiwa yang terganggu yang disebut stres dan frustasi.

Toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotip yang tidak adil, sehingga tercapai kesamaan sikap.

 Kesimpulan

Perilaku terpuji yaitu perilaku yang sesuai dengan norma-norma agama, tidak menyimpang dari aturan. Dalam menghadapi konseli kita harus bersikap seperti berwibawa, sikap berwibawa akan mempunyai nilai tersendiri di mata konseli, dan menambah keyakinan konseli terhadap konselor

Ada beberapa cara yang dapat di lakukan untuk mengendalikan dan mengarahkan emosinya secara positif :

  1. Setiap tindakan harus di dasarkan pada akal sehat.
  2. Berpikirlah tentang akibat yang akan terjadi.
  3. Berusahalah untuk memaafkan orang lain.

Empati adalah kemampuan seseorang untuk merasakan secara tepat apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain dan mengkomunikasikan persepsinya konseli. Empati adalah sepenuhnya memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau perilaku manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, H. M. 1994. Teori – Teori Konseling Umum dan Agama. Jakarta : PT Golden terayon press.

Kathryn Geldart & David Gildart. 2004. Teknik Konseling. Pustaka belajar.

Mulyatiningsih, Rudi. 2004. Bimbingan Pribadi Social, Belajar, dan Karier. Jakarta : PT Grasindo

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/01/21/mengelola-stres/


Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: