Beranda > Uncategorized > PENGERTIAN FILSAFAT ILMU DAN RUANG LINGKUPNYA

PENGERTIAN FILSAFAT ILMU DAN RUANG LINGKUPNYA

A.    Pengertian Filsafat Ilmu

The liang gie (2000; 61) bahwa filsafat ilmu segenap pemikiran terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Landasan yang dimaksud menyangkup:

    1. Konsep-konsep pangkal
    2. Anggapan-anggapan dasar
    3. Asas-asas permulaan
    4. Strukttur-struktur teoritis
    5. Ukuran-ukuran kebenaran ilmiah

Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang dieksistensi dan pemakarnya bergantung pada hubungan timbal balik dan saling berpengaruh antara filsafat dangan ilmu.

Hartono dkk dalam bukunya  (1990; 17) berpendapat Filsafat ilmu adalah studi sistematik mengenai sifat dan hakekat ilmu khususnya yang berkenaan dengan metodenya, konsepnya “sangka wancana”-nya (presupposition), dan kedudukannya didalam skema umum disiplin intelektual.

Ada tiga telaah mengenai filsafat ilmu:

  1. Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmuan tertetu, terhadap lambang-lambang yang diguanakan dan terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang diguanakan. Metode telaah; induktif, deduktif, hipotesis, data, penemuan dan verifikasi.
  2. Filsafat ilmu adalah upaya untuka mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep, sangka wancana, dan postulat. Mengenai ilmu dan upaya untuk membuka tabir dasar-dasar ke-empiris-an, ke-rasional-an, dan ke-pragmatisa-an. Aspek filsafat ini erat hubungannya dengan hal-ihwal yang logis dan epistemologis. Jadi peran filsafat ilmu di sini adalah ganda. Sisi yang pertama filsafat ilmu mencangkup analisis kritis terhadap nosi (anggapan) dasar, seperti; kuantitas, waktu, ruang, dan hukum. Pada sisi lain filsafat ilmu mencangkup studi mengenai keyakinan tertentu. Seperti; keyakinan mengenai dunia “sana”, keyakinan mengenai kesurupan-keserupan di alam semesta, dan keyakinan mengenai kenalaran proses alami.
  3. Filsafat ilmu adalah studi gabungan yang terdiri dari beberapa studi yang beraneka macam yang ditunjuan untuk menetapkan batas yang tegas menganai ilmu tertentu, untuk menguraikan pertautan atau antar hubungan yang ada pada studi yang satu terhadap studi yang lain dan untuk mengkaji implikasi sumbangannya terhadap suatu teori, baik teori yang bersifat semesta maupun teori yang unsur-unsurnya “terpakai” di mana-mana (pervasive). Yang termasuk teori bersifat kesemestaannya ialah yang berkenaan dengan idealisme, materialisme, positivisme, mekanisme, teleologi, monisme dan pluralisme. Adapun yang tergolong teori yang pervasive ialah yang terpakai untuk menunjang pemecahan masalah dalam rangka skema kebudayaan, seperti; dalam kaitannya praktik kesenian, studi keamanan, dan moralitas.

Menurut Ahmad Tafasir  (2010: 68) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang logis dan tidak empiris. Sementara Ahmad Saebani,(2009; 20)  filsafat ilmu adalah filsafat yang mengkaji seluk-beluk dan tata cara memperoleh suatu pengetahuan, sumber-sumber pengetahuan, metode dan pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan logis dan rasional.

Dari definisi mengenai filsafat ilmu di atas, maka dapat dilihat bahwa ruang lingkup filsafat ilmu adalah mengenai tata cara memperoleh pengetahuan, sumber-sumber pengetahuan serta metode dan pendekatannya.

B.     Ruang Lingkup filsafat ilmu

The liang gie (2000; 65) filsafat ilmu dewasa ini telah berkebang pesat sehingga menjadi suatu bidang pengetahuan yang amat luas dan sangat mendalam. Lingkupan filsafat ilmu sebagaimana telah dibahas oleh para filsufi dapat dikemukakan secara ringkas sebagai berikut;

  • Peter Angeles

Menurut filsuf ini, filsafat ilmu mempunyai empat bidang paling utama yaitu;

  1. Telaah mengenai berbagai konsep, peranggapan, dan metode ilmu, berikut analisis perluasan dan penyusunannya untuk memperoleh pengetahuan yang lebih ajeg dan cermat.
  2. Telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut struktur perlambangannya.
  3. Telaah mengenai saling kaitan diantara berbagai ilmu.
  4. Telaah mengenai akibat-akibat pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan penyerapan dan pemahaman manusia  terhadap realitas, hubungan logika dan matematika dengan realitas, entitas, teoretis, sumber dan keabsahan pengetahuan, serta sifat dasar manusia.
  • Cornelius Benjamin

Filsuf ini menberi pokok soal filsafat ilmu dalam tiga bidang:

  1. Telaah mengenai metode ilmu, lambang ilmiah, dan struktur logis dari sistem perlambangan ilmiah. Telaah ini banyak menyangkut logika dan teori pengetahuan, dan teori umum tentang tanda.
  2. Penjelasan mengenai konsep dasar praanggapan, dan pangkal pendirian ilmu berikut landasan-landasan empiris, rasional, atau pragmatis yang menjadi tempat tumpuannya.
  3. Aneka telaah mengenai saling kait diantaraberbagai ilmu dan implikasinya bagi teori alam semesta seperti; idealisme, matrealisme, monisme atau pluraisme.
  • Edward Maden

Filsuf ini berpendapat bahwa apapun lingkupan filsafat umum, tiga bidang tentu merupakan bahan perbincangan, yaitu:

  1. Probabilitas
  2. Induksi
  3. Hipotesis
  • Israel Scheffler

Filsuf ini berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau  tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu. Lingkupannya mencangkup tiga bidang yaitu:

  1. Peran ilmu dalam masyarakat
  2. Dunia sebagaimana digambarkan oleh ilmu
  3. Landasan-landasn ilmu

Berdasarkan perkembangan filsafat ilmu sampai saat ini, filsuf pengamat John Losee menyimpulkan bahwa filsafat ilmu dapat digolongkan menjadi empat konsepsi, yaitu:

  1. Filsafat ilmu yang berusaha menyusun pendangan-pandangan dunia yang sesui atau berdasarkan teori-teori ilmiah yang penting.
  2. Filsafat ilmu yang berusaha memaparkan pranggapan dan kecenderungan para ilmuwan. (misalnya praanggapan bahwa alam semesta mempunyai keteraturan)
  3. Filsafat ilmu sebagai suatu cabang pengetahuan yang menganalisis dan menerapakan konsep dan teori dari ilmu.
  4. Filsafat ilmu sebagai pengetahuan kritis derajat kedua yang menelaah tentang ilmu sebagai sasarannya.

Bidang garapan Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen‑komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Ontologi ilmu  meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagai­mana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dua­lisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan ke­yakinan kita masing‑masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.

Epistemologi ilmu meliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenal pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal (Verstand), akal budi (Vernunft) pengalaman, atau komunikasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal adanya model‑model epistemologik seperti: rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme, feno­menologi dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula bagai­mana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seped teori ko­herensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.

Akslologi llmu meliputi nilal‑nilal (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau ke­nyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik atau pun fisik‑material. Lebih dari itu nilai‑nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.

C.    Tujuan Filsafat Ilmu

Rizal dan Misnal (2001. 51) Filsafat ilmu sebagai cabang khusus filsafat yang membicarakan tentang sejarah perkembangan ilmu, metode-metode ilmiah, sikap etis yang harus dikembangkan oleh pra ilmuan secara umum mengandung tujuan tujuan sebagai berikut

  1. Filsafat ilmu sebagai sarana pengujuan penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi keritis terhadap kegiatan ilmiah. Maksudnya, seorang ilmuan harus memiliki sikap kritis terhadap bidang ilmiah sendiri, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solibsistik,mengandung bahwa hanya pendapatnya yang paling benar.
  2. Filsafat ilmu merupakan merefleksi, menguji, mengkeritik asumsi dan metode keilmuan. Sebab kecenderungan yang terjadi dikalangan para ilmuan modern adalah menerapkan suatu metode ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmu pengetahuan ilmu itu sendiri. Satu sikap yang diperlukan disini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai atau cocok dengan struktur ilmu pengetahuan, bukan sebaiknuya. Metode hanya sarana berfikir, bukan merupakan hakekat ilmu pengetahuan.
  3. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah yang dikembangkan haru dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum. Semakin luas penerimaan dan penggunaan metode ilmiah, maka semakin valid metode tersebut, pembahasan mengenai hal ini dibicarakan dalam metodelogi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang cara untuk memperoleh kebenaran.

D.    Implikasi Mempelajari Filsafat Ilmu

Rizal dan Misnal (2001: 53) mengungkapkan beberapa implikasi mempelajari filsafat ilmu yaitu sebagai berikut

Bagi seseorang yang mempelajari filsafat ilmu diperlukan pengetahuan dasar yang memadai tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, supaya ilmuan memiliki landasan berpijak yang kuat. Ini berarti ilmuan sosial perlu mempelajari ilmu-ilmu kealaman secara garis besar, demikian pula seorang ahli ilmu kealaman perlu memahami dan mengetahui secara garis besar tentang ilmu-ilmu sosial. Sehingga ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya saling menyapa, bahkan dimungkinkan terjalinnya kerjasama yang harmonis untuk memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan.

Menyadarkan seorang ilmuan agar tidak terjebak kedalam pla pikir “menara gading”, yakni hanya berfikir murni dalam bidangnya tanpa mengkaitkannya dengan kenyataan yang ada diluar dirinya. Padahal setiap aktifitas keilmuan nyaris tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan sosial-kemasyarakatan.

DAFTAR PUSTAKA

Beni, Ahmad Saebani (2009), Filsafat Ilmu. Bandung: Pustaka Setia.

Gie, The Liang. (2000). Pengantar filsafat ilmu. Yogyakarta: Liberty

Mustansyir, Rizal. dan Munir, Misnal. (2001). Filsafat ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar (anggota IKAPI).

Tafasir, Ahmad. (2010). Filsafat Ilmu. Bandung: Rosda

http://getuk.wordpress.com/2006/11/16/ruang-lingkup-filsafat-ilmu/ di akses pada tanggal 8 maret 2012.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: